Plasma GMK Bermain-main Dengan Hukum

gerakanaktif.net, penajam- Persoalan plasma di Kalimantan timur seolah tidak ada habisnya, selalu saja bermunculan dengan beragam motif serta menjadi momok di masyarakat, membuat jenuh pejabat instansi terkait karena menyita waktunya untuk menyelesaikan namun kenyataannya tidak bisa untuk terselesaikan.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara di kecamatan Babulu Darat, Plasma justru menyerobot lahan PT. Global Tanpa aturan dan hukum yang jelas (di luar HGUnya). Dugaan Kuat Ada sekelompok intelektual di belakang penyerobotan tersebut.

Kelompok Tani “ Todong Ruwo “ yang di dalamnya terdapat element masyarakat, tokoh asli paser yang telah mendiami dan menguasai lahan 1000 hektar beratus tahun  yang lalu, kemudian menjual kepada PT. Global atas nama direktur Nazaruddin. Karena terkendala modal Nazaruddin direktur PT. Global memutuskan untuk mencari investor untuk mengelolanya. Piter muncul sebagai pemodal, dan mulai mengerjakan pematangan.

Namun ketika PT. Global akan mengelola lahan tersebut, selalu di halang-halangi dan dihentikan oleh warga anggota kelompok tani “ Hidup Baru “, pernyataan mereka bahwa lahan tersebut adalah lahan plasma PT. GMK yang telah mengantongi ijin HGU dari Bupati.

Global kemudian meminta kelompok tani Todong Ruwo selaku penjual lahan untuk menyelesaikan, pihak desa babulu darat kemudian mediasikan kedua kelompok tani tersebut, namun karena Kelompok Tani Hidup Baru terdapat banyak anggota yang berasal dari staf desa babulu darat membuat persoalan menjadi rumit, dan berputar-putar tanpa ada penyelesaikan seolah di gantung.

Nazaruddin direktur PT. Global akhirnya melaporkan penyerobotan ini kepada pihak berwajib, saat ini kasus tersebut masih bergulir, beberapa anggota Kelompok Tani “ Hidup Baru” di panggil satuan reskrim penajam secara terpisah untuk di mintai keterangan.

kelompok tani Hidup Baru mengakui Lahan 200 Hakter tersebut bersegel, satu segel 12 haktare, bahkan anehnya lagi plasma sudah disertifkatkan, dibantah dan tidak diakui oleh kelompok tani Todong Ruwo, menurutnya tidak ada tumpang tindih di lahan tersebut yang dimiliki secara turun memurun.

“ Itu sudah tidak benar ? perlu di pertanyakan legalitasnya siapa yang mengesyahkan atau yang membuat ? apa yang sudah kami jual kepada PT. Global itu sudah benar, kami ini penduduk asli/pribumi turun temurun. Ini penyerobotan pelanggaran hukum dan penipuan murni. Bahkan saya melihat ada anggota kelompok Tani Hidup Baru juga menjual lahannya kepada PT. Global. “ Ujar Sabran Ahli waris dan anggota kelompok tani Todong Ruwo.

Sabran menambahkan, posisi lahan kelompok tani Todong Ruwo berada di atas berbatasan dengan PT. GMK, PT.STA dan desa Labanka dan posisi kelompok tani Hidup Baru berada di bawah. Tidak seperti posisi sekarang yang terjadi, plasma di garap di lahan kelompok tani todong Ruwo yang berada di atas dan diakui sebagai lahan kelompok tani Hidup Baru.

Pihak kepolisian dalam hal ini Satreskrim Polres Penajam selaku mediasi meminta pemetaan di lapangan kepada pihak kelompok  tani Hidup Baru agar membuat patok lahan yang sudah di claimnya dan hasil di di lapangan menguasai 100 Hektare. Sementara pada pemetaan yang dilakukan PT. Global hasilnya menguasai 170 hektare.

Sebenarnya Nazarudin direktur PT.Global tidak menginginkan kejadian ini diselesaikan di jalur hukum, pada dasarnya Ia berharap hanya bisa bekerja dan mengelola lahahan yang dibelinya dari kelompok tani Tudong Ruwo dengan aman dan lancar, dan membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar.(TIM)

Tinggalkan Balasan